×

Sekilas Tentang Budaya Literasi

Menyoal tentang literasi tentunya sudah bukan hal yang asing di telinga. Beberapa tahun terakhir, tema-tema yang berkaitan dengan literasi kerap dijadikan bahan diskusi, baik itu dari segi peran dan fungsinya, maupun dari segi praktiknya dalam lingkungan sosial-budaya masyarakat. Demikian karena, literasi dalam hal ini memang merupakan sesuatu yang urgen terutama dalam proyek pembangunan atau peningkatan kualitas dan mutu sumber daya manusia.

Secara umum literasi diartikan sebagai kemampuan atau kualitas yang dimiliki seseorang dalam hal keaksaraan (membaca dan menulis). Padahal, jika dilihat dari asal katanya, di mana literasi sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Inggris literacy yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin yaitu literatus, memiliki arti yang luas yakni “orang yang belajar”. Oleh sebab itu, jika diartikan secara luas, literasi dalam hal ini bukan hanya sekedar kecakapan membaca dan menulis saja, atau sering disebut “melek huruf”. Lebih dari itu, literasi mengandung arti yang lebih kompleks, yang mencakup semua kemampuan untuk mengenali dan memahami realitas, baik yang disampaikan secara lisan, tulisan, maupun yang disampaikan secara visual, audio, dan audio-visual. Artinya, “melek literasi” tidak lain merupakan “melek realitas”.

Terkait tentang pembangunan sumber daya manusia melalui program “melek literasi”, saat ini sudah banyak bertebaran gerakan-gerakan literasi di berbagai daerah khususnya di Bumi Nusantara ini. Gerakan literasi itu sendiri ditingkatkan kepada seluruh lapisan masyarakat dengan dasar atau dalil bahwa setiap orang berhak untuk belajar sepanjang hayat karena masing-masing individu diharapkan dapat meningkatkan dan memberdayakan kualitas hidupnya, baik secara individu, di dalam lingkungan keluarga, maupun di dalam lingkungan masyarakat. Itulah sebabnya, gerakan-gerakan literasi selalu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pasalnya, gerakan literasi semacam itu sarat akan nilai-niai edukasi di dalamnya (education values).

Kendati demikian, terkadang juga masih ada saja segelintir orang yang menganggap bahwa gerakan semacam itu tidak berfaedah, tidak bermanfaat, buang-buang tenaga, waktu, pikiran, dan seterusnya. Sejenak jika menelisik realitas kehidupan sosial budaya di zaman ‘edan’ seperti saat ini, memang terkadang ada orang yang terlalu sibuk memikirkan dunianya sendiri, mengejar ‘keuntungan finansial’ di setiap apa yang dikerjakan, atau dengan kata lain memiliki sifat yang individualistik dan materialistis, sehingga pekerjaan yang tidak menghasilkan keuntungan finansial bagi diri dan atau komunitasnya dianggap tidak penting dan diabaikan. Kiranya perlu dipertegas di sini bahwa jelas anggapan-anggapan yang demikian itu sungguh sangat keliru.

Kembali pada pembicaraan tentang gerakan literasi, sebagaimana di awal juga telah disinggung bahwa di Nusantara ini sudah banyak ditemui gerakan literasi (terutama membaca dan menulis). Adapun gerakan-gerakan literasi tersebut, bukan hanya di lingkungan perkotaan saja, melainkan juga sudah banyak yang bergerak di beberapa daerah pedalaman, yang kerap disebut dan dianggap daerah terpencil. Yang menarik dalam hal ini, dimana secara kasat mata gerakan-gerakan literasi yang dimaksud itu justru lebih giat berproses dan lebih mendominasi dalam projek peningkatan kebudayaan “melek literasi” dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan (formal) yang ada. Para penggeraknya pun justru kebanyakan adalah mereka yang tidak berkecimpung di dunia pendidikan formal. Padahal jika dilihat dari segi kontekstualnya, harusnya lembaga-lembaga pendidikan formal-lah yang paling di depan jika berbicara tentang dunia literasi.

Sebagai contoh kecil khususnya di Kabupaten Enrekang, yakni gerakan literasi yang tercipta di Desa Karrang, Kec. Cendana. Di desa tersebut M. Supriadi selaku Kepala Desa mendorong munculnya titik baca di beberapa lokasi di Desa Karrang tersebut. Selain itu, Kades yang kreatif itu berinisiatif membuat perpustakaan kecil di halaman rumahnya, yang berbentuk menyerupai pos dan diberi nama kotak baca untuk memancing animo membaca warga masyarakat (lihat, Matakita.com). Gerakan literasi yang dipelopori oleh M. Supriadi yang menjabat sebagai Kepala Desa tersebut berjalan lancar, dan alhasil kini warga masyarakat khususnya di Desa Karrang mulai tertarik dengan budaya “melek literasi”.

Kemudian yang tak kalah menarik, di mana kini diberbagai daerah telah banyak dijumpai bercokol gerakan-gerakan literasi yang tampil dalam bentuk Taman Baca Masyarakat (TBM). Salah satu contoh menarik adalah Pohon Pustaka yang ada di Kalimbua, Desa Bontongan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang.

Video Pohon Pustaka

Sebagaimana dirilis oleh Sulselsatu.com bahwa TBM tersebut memiliki konsep one stop activities sebagai dasar pendiriannya. Menariknya lagi, di mana Pohon Pustaka tersebut bukan hanya bergerak di bidang literasi (membaca), melainkan juga mengakomodir berbagai macam kegiatan masyarakat, termasuk di dalammnya yang berkaitan dengan seni dan budaya. Sekali lagi, Pohon Pustaka ini bersifat independen, dan dikelola oleh orang-orang yang notabene tidak memiliki “nomor induk lembaga formal; NIP; NIDN; dst”, artinya, semua karena inisiatif sendiri dari kesadaran sang pendiri.

Sekiranya, memang sangat dibutuhkan gerakan-gerakan literasi semacam ini dalam proyek pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan bermutu. Dengan kata lain, budaya “melek literasi” adalah mutlak jika kehidupan bangsa ingin dicerdaskan sebagaimana yang dicita-citakan. Dan tentunya, di sini dibutuhkan kerja kolektif antara berbagai pihak, terutama dalam hal ini adalah para akademisi yang notabene berkecimpung dalam dunia pendidikan. Jika tidak mampu terjun langsung ke lapangan, minimal jadi kreator; jika tidak mampu jadi kreator, minimal jadi pemantik, dan jika tidak mampu jadi pemantik, minimal memikirkan dan menganggap hal itu penting!

Salam literasi, salam estetis.

Post Comment