Diskusi Buku, Anjungan Sungai, dan Impian Ruang Meta Kognitif
Harapan muncul ketika Himpunan Mahasiswa BK berkolaborasi dengan forum TBM, Kulibuku, dan Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional ri mengadakan diskusi dua novel karya Ilham MR “Khimar Merah dan Selepas Khimar Merah”, asumsi kami jelas sederhana, bahwa dua buku sastra itu bisa dibaca secara interdisipliner lewat lensa Bimbingan dan Konseling. Forum berjalan aktif dan diskursif. Ilham sendiri menulis dengan cara yang merambahi banyak persoalan sekaligus — individu, masyarakat, asmara santri yang selama ini dianggap tabu, kearifan lokal, sampai kondisi dan gerakan sosial masyarakat Enrekang — dan itu membuat para peserta terdorong kembali memikirkan hal-hal yang selama ini dibiarkan mengendap.
Meski diskusi cenderung tidak terarah, kadang lompat ke ritus maccerang manurung, atau ke sejarah, lalu kembali lagi ke inti buku. Tapi itu soal lain. Pikiran kami waktu itu sederhana: berdiskusi dulu, bagaimanapun kondisinya. Tidak teratur itu wajar untuk permulaan. Kami percaya akan ada saatnya diskusi yang baik, teratur, dan kritis menemukan jalannya — jika kegiatan ini menjadi semacam rutinitas. Penulis tidak akan menspoiler apa yang terjadi secara jelimet malam itu, tapi ada satu hal yang ingin dipikirkan bersama: ruang seperti apa yang sesungguhnya bisa kita ciptakan secara kolektif? Jawabannya, bagi saya, adalah ruang meta kognisi.
Untuk sampai ke sana, saya ingin menggunakan teori Henri Lefebvre tentang Produksi Ruang — sebuah kerangka yang berguna untuk menjelaskan mengapa Anjungan Sungai Mata Allo, yang sejak diresmikan 2021 dikonsepsikan pemerintah Enrekang sebagai destinasi wisata, tidak berjalan semulus yang dituju. Lefebvre membedakan tiga dimensi ruang: ruang yang dipersepsikan — bagaimana orang bergerak dan menggunakannya sehari-hari; ruang yang dikonsepsikan — ruang yang dirancang perencana dan pemerintah, yang hidup di atas kertas dan kebijakan; dan ruang yang dihidupi — ruang yang dimaknai penghuninya, tempat simbol, memori, dan imajinasi beroperasi. Ketiganya hampir tidak pernah selaras. Dan itulah yang sedang terjadi di sini.
Anjungan Sungai Mata Allo adalah ruang yang dikonsepsikan — dibayangkan sebagai tempat masyarakat menyatu dengan lanskap sungai, tempat muda-mudi menikmati senja ditemani jajanan dari gerai yang mulai terisi satu per satu. Tapi dalam praktiknya, masyarakat kota memilih tempat lain. Hanya berjarak 200 meter, terdapat lapangan sepak bola bernama Abu Bakar Lambogo — seorang pahlawan Enrekang yang kini hanya tinggal nama di papan. Di sisi kanannya dibangun alun-alun. Hampir tiap menjelang senja, khususnya Sabtu dan Minggu, tempat itu ramai: anak-anak datang beramai-ramai, ada yang jogging, ada penyewaan mainan, ada lepau dan kedai berjejer. Entah siapa yang mengonsep ruang itu hingga bisa tumbuh menjadi ruang ekonomi dan wisata sekaligus — atau memang tumbuh spontan — tapi tulisan ini tidak hendak menggugat itu. Yang ingin ditunjukkan cukup satu hal: ketiadaan ruang publik yang meta kognitif di Enrekang sudah lama terjadi, dan Anjungan belum mengisinya.
Penulis percaya ruang sosial di Enrekang berjalan cair. Meski awalnya Anjungan dikonsepsikan sebagai ruang wisata, masyarakat kota beralih ke lapangan — karena di sana ruang yang dihidupi terbentuk secara organik. Anjungan belum punya itu. Dan persoalannya bukan pada fisik bangunan atau lokasinya yang di tepian sungai. Persoalannya adalah bahwa sebuah ruang tidak cukup hanya tampak mengundang — ia harus terasa seperti milik bersama, tempat orang merasa punya alasan untuk kembali.
Ruang publik sebagai ruang meta kognisi adalah konsep di mana sebuah ruang tidak hanya menjadi tempat mengobrol dan menukar informasi, tetapi menjadi arena refleksi kolektif — tentang keputusan-keputusan yang selama ini dijadikan landasan bergerak individu maupun masyarakat. Pengunjung bukan objek yang hadir untuk dinikmati, melainkan subjek dalam ruang sosial. Lefebvre sendiri menegaskan bahwa lived space adalah arena perlawanan dan imajinasi — tempat masyarakat biasa bisa merebut kembali ruang dari dominasi perencanaan atas-bawah. Anjungan punya potensi itu, dan yang dibutuhkan bukan renovasi fisik melainkan rekonseptualisasi sosial.
Di situlah peluang nyata terbuka. Di anjungan terdapat sebuah kedai dan toko buku sekaligus penerbit lokal (Kulibuku Maspul), di belakangnya berdiri Perpustakaan Dinas Kabupaten yang megah serta Universitas Muhammadiyah Enrekang sebagai kampus terbaik kabupaten ini yang jaraknya hanya 100 meter, dan itu bukan pernyataan kecil. Ada energi intelektual di sana, ada mahasiswa yang malam itu terbukti mau duduk dan berdiskusi sampai larut. Gabungkan dengan Forum TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Enrekang, Relawan literasi masyarakat Perpustakaan Nasional RI, maka kita tidak sedang berbicara tentang mimpi — kita berbicara tentang infrastruktur sosial yang sudah ada, tinggal diarahkan ke satu titik: Anjungan Sungai Mata Allo.
Ruang hanya akan berjalan cair ketika setiap orang mengerti dan sadar akan posisinya sebagai agen masyarakat — bukan sekadar pengunjung yang lewat, tapi pemikir yang hadir dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi di ruang itu. Malam diskusi yang ngalor-ngidul itu mungkin jauh dari sempurna. Tapi ada sesuatu yang tumbuh dari ketidakrapiannya — sebuah dorongan untuk terus bertemu, terus berpikir bersama, dan terus mencari ruang yang layak bagi percakapan-percakapan seperti itu. Anjungan Sungai Mata Allo, dengan senjanya dan deru sungai di bawahnya, bisa menjadi ruang itu — bukan sekadar tempat wisata, tapi tempat kota ini berpikir tentang dirinya sendiri.
Referensi
Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring: A new area of cognitive–developmental inquiry. American Psychologist, 34(10), 906–911. https://doi.org/10.1037/0003-066X.34.10.906
Habermas, J. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society (T. Burger, Trans.). MIT Press. (Karya asli diterbitkan 1962)
Ilham, MR. (2022). Khimar Merah. [Kulibuku Maspul]
Lefebvre, H. (1991). The Production of Space (D. Nicholson-Smith, Trans.). Blackwell. (Karya asli diterbitkan 1974)
Lefebvre, H. (1996). Writings on Cities (E. Kofman & E. Lebas, Trans. & Eds.). Blackwell.

