Menuju Gerbang Kematian Kedua Bunyi Lokal
Proyek revitalisasi seni tradisi di Indonesia mengalami trend pasang surut. Berbagai upaya terus dilakukan demi melestarikan budaya yang lambat laun kian tergerus oleh arus modernitas. Pelestarian tersebut layak menjadi perhatian khusus sebab seni tradisi bukan hanya merupakan pembentuk identitas kebangsaan yang mampu menginterupsi penyeragaman berpikir yang dilakukan oleh Barat, sebagaimana dikemukakan Said, tetapi juga merupakan kekayaan intelektual turun-temurun yang tak ternilai harganya karena di dalam seni tradisi tersimpan nilai moral, spiritual, dan transendental yang hanya dapat diartikulasi oleh masyarakat lokal.
Sebagian besar masyarakat kini jauh meninggalkan bunyi tradisi seiring meredupnya cahaya mitos tergantikan listrik, dan suguhan-suguhan popular di layar kaca. Ini adalah kematian pertama bagi bunyi lokal. Oleh karena itu, menyadari pentingnya memelihara musik lokal yang cenderung berbentuk ritual, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah berkolaborasi bersama penggiat seni karawitan adalah dengan memanggul seni lokal tersebut ke atas panggung.
Dalam prakteknya suguhan seni tradisi selama ini, terutama di bidang seni musik sayangnya, tak sanggup merepresentasikan pola pikir masyarakat lokal dalam mengartikulasi semesta bunyi yang dialami mereka. Bukannya menghadirkan keteduhan, komposisinya hanya mereduksi yang sudah ada. Dengan kata lain, hasil revitalisasi musik daerah pada akhirnya terlibat dalam mengusung genre-genre pop yang sudah mapan seperti jazz, R&B, pop progressive, dan lain-lain. Dengan demikian kegelisahan pun mengemuka melalui sebuah pertanyaan untuk apa menghidupkan kembali musik tradisi jika komposisi tersebut hanya menjadi bagian dari list salah satu aliran musik yang sudah ada. Pertanyaan ini tentunya menuntut jawaban dan analisis yang sifatnya fungsional, sebab tak dapat dipungkiri peran musik dalam perkembangan kebudayaan baik itu yang nomadik, primitif, tradisional, bahkan yang modern begitu besar karena tidak hanya meliputi unsur-unsur yang sifatnya hiburan, tetapi mengandung nilai moral, spiritual, dan kontempelasi seperti yang dijelaskan sebelumnya. Bahkan seorang Jalaluddin Rumi mendaku bahwa nabi-nabi di setiap peradaban menemukan wahyu melalui bunyi yang dalam hal ini adalah musik.
Oleh karena itu, jika nilai dalam musik menjadi unsur yang penting maka semestinya musik lokal tak perlu mengenakan jubah modern agar dapat hidup kembali, yang pada akhirnya, menjadi celah untuk direndahkan oleh masyarakat Barat sebagaimana tradisi pop. Sama malangnya dengan seorang gadis lokal yang terpaksa menggunakan krim pemutih agar dapat menarik perhatian laki-laki perkotaan, padahal kesantunan, kesucian, dan budi pekerti adalah senjata yang ampuh menaklukkan para lelaki kota.
Pada dasarnya pemikir-pemikir Baudillardian sudah lama memperhatikan gejala-gejala peniruan yang sifatnya sporadis ini. Prinsip dasar tradisi pop, menurut mereka, adalah menciptakan atau memproduksi sesuatu dari banyak unsur dan simbol kebudayaan tanpa peduli apakah simbol-simbol ini bermakna sesuatu atau tidak, ditabukan atau tidak, bernilai atau tidak. Produksi massal tentunya berorientasi pada ekonomi sehingga ketertarikan yang sifatnya kontempelatif, mengakar dan membutuhkan proses panjang disingkirkan lalu diganti dengan ekstase yang bersifat temporer. Di ranah ini apabila musik-musik tradisi ikut berkolaborasi dengan musik-musik pop lainnya, maka di saat itu pula kearifan ini tak lama lagi akan ditinggalkan.
Saat ini semangat tradisi lokal terutama di bidang seni bunyi kerap dimanfaatkan industri massal dengan memaksa bunyi lokal yang sarat dengan alam dan spiritual ini menciut untuk memasuki kanal-kanal musik diatonik yang sesungguhnya tak memiliki asal-usul kebudayaan yang beda. Bunyi lokal ini malangnya baik secara eksplisit maupun implisit mau tak mau hanya menjadi pembungkus dari kedigdayaan bunyi-bunyi kolonial yang matematis dan mekanis. Hanya karena liriknya kedaerahan, hanya karena dipertegas oleh instrument tradisional maka itulah musik daerah. Dengan begitu Bunyi Lokal tak lain hanya menghadirkan romantika-romantika sesaat, dan eksotisme yang dangkal disebabkan nilai dan mistisisme di dalamnya telah dibunuh oleh sistem mekanika musik Barat. Musik menjadi begitu rapuh, tidak sanggup menarik pendengarnya dari dunia yang sistemik.
Dari uraian ini dapat disimpulkan musik tidak lagi menawarkan apa-apa kecuali bunyi yang common-sense. Alih-alih menjadi seni yang agung, revitalisasi musik lokal sebagaimana musik kebanyakan tak lebih hanya melegitimasi kesadaran palsu, tak ada batas antara musik yang lokal dan yang korporal, sehingga dampaknya adalah penyeragaman nilai-nilai estetis yang berujung pada patologi di ruang-ruang kesenian.


Post Comment