×

Identitas, Alam dan Sastra

“Bahasa dasarnya merupakan metafora alam… oleh karena itu, tak ayal totalitarianisme bahasa hanya menyebabkan manusia lupa bahwa asal-muasal diri (bahasa) mereka adalah alam yang agung” (Nietszche)

Teks-teks sastra yang diperbincangkan seringkali terkait tentang isu-isu pergeseran yang sifatnya ontologis, atau renyah dengan label postmodern. Pengaburan pusat dan penciptaan ruang-ruang baru mewarnai sastra-sastra koran, dan karya-karya indie hari ini. Narasi-narasinya pun fokus pada keberadaan kelompok-kelompok marjinal dan sublatern. Hal ini disebabkan karena pengarang-pengarang kontemporer, dalam hal ini pengarang pasca reformasi, tengah merayakan kebebasan bercuap melalui teks, baik melalui media mainstream maupun media alternatif seperti blog dan media cyber lainnya. Ditambah lagi, teknologi memudahkan informasi dan peristiwa diakses dengan cepat. Pengarang/penyair tidak perlu kesulitan mengeksplorasi data, gaya penulisan, dan tokoh-tokoh yang dikagumi.

Dengan berbagai kemudahan yang ada, teks, alih-alih memperkaya khasanah sastra, semakin kehilangan sisi mantranya. Mistisme karya sastra telah lama tereduksi seiring menggunungnya tulisan terpapar di hadapan kita dalam sehari. Pembaca dan pengarang seakan-akan menunjukkan kerjasama yang baik dengan tidak memerdulikan kedalamannya. Selama itu sejuk, menenangkan, dan tak sukar dikunyah oleh nalar, maka biarkanlah kita menganggapnya itu sebagai sastra. Padahal masyarakat bertuhan yang hidup di sekitar kita lupa bahwa kitab suci telah mengabadikan taktik Sang Ular dengan menggoda pasangan Adam dan Hawa melalui bahasa-bahasa sederhana, sejuk, membujuk, dan realistis.

Suguhan kutipan-kutipan atau tulisan-tulisan pendek mewarnai pergaulan sehari-hari kita di media sosial seakan-akan qoute tersebut sudah sangat jelas; tidak lagi menuai perdebatan; cocok dengan konteks apapun; dan, orang-orang juga perlu diberi tahu – sesuai prinsip sharing is caring yang sayangnya juga adalah kutipan – dengan membagikannya sebagai bagian dari upaya pencitraan identitas. Kita sedang memasuki masa di mana dunia maya dihuni oleh identitas-identitas yang juga maya. Teks kehilangan perannya sebagai representasi dari imagined self. Teks telah disusupi tendensi dan hipokrisi yang membuatnya jauh tereduksi dari fungsi ke-mantra-anya.

Adapun penjabaran mengenai indikator-indikator sastra high dan picisan masih cukup runyam disebabkan di era ini semua orang memiliki ruang yang luas untuk memiliki pijakan epistemologi – jangankan pada fakultas sastra, persoalan siapakah tokoh paling religius di antara Quraisy Shihab atau Tengku Wisnu saja pun masih dipertentangkan. Pemikiran atau dalam hal ini era posmodernisme, sebagaimana gejala-gelaja yang terpapar di atas, tidak hanya membebaskan diri dari nilai-nilai konservatif tetapi juga memenjarakan subjek-subjek ke dalam tren-tren yang absurd, juga mengasingkan self dari identitasnya yang merekat kuat. Ini disebabkan gerak subjek-subjek postmodernisme menyerupai spiral menghindari Pusat. Degradasi ini mengakibatkan batas-batas signifikan yang sifatnya ontologis menjadi bergeser, bias dan bahkan saling bertukar seperti antara yang imajinasi dan yang rill, yang fakta dan yang fiktif, yang original dan yang tiruan, antara yang lelaki dan yang perempuan, yang waras dan gila, yang manusia dan yang binatang dan lain-lain. Mereka dapat saling bertukar sampai titik berpijak pun cair seperti lumpur padat namun menenggelamkan.

Sastra kekinian masih terus bergulat dengan perhelatan batin yang terkadang kehilangan romansa, kegelisahan jiwa yang terkadang sadisme. Jika benar kata Warren dan Welleck bahwa sastra adalah artefak suatu zaman, maka generasi pada periode ini di masa yang akan datang mungkin dianggap sebagai generasi “sakit jiwa”. Pada kesempatan ini, oleh karena itu, ketersebaran perlu sesekali kembali diperhitungkan sebagai kecelakaan. Ini berarti bahwa perlunya kembali menghadirkan Pusat sebagai penentu laku manusia sebagaimana kata Machiavelli “alam punya banyak cara menghancurkan manusia” pun punya banyak cara menjaga manusia.

Iya, Pusat adalah alam itu sendiri. Kehadiran alam dalam teks mengangkat sisi yang paling alam di relung terdalam manusia. Mantra, lagu, dongeng, dan jenis-jenis syair yang lain dalam kesusasteraan lokal menggunakan alam sebagai analogi bahkan alegori untuk mengungkapkan kuasanya menjaga keteduhan batin yang mendengarnya. Semestinya sastra diajak pulang ke kampung halamannya, kembali pada kearifannya sebagai bagian dari bentangan alam. Sastra terlalu lama berpijak di antara beton-beton kokoh yang banyak mengilustrasikan kepalsuan manusia-manusia di dalamnya, mengandalkan tulang-tulang yang keras dengan daging-daging yang lembek, atau jiwa-jiwa yang rapuh. Deluze menjelaskan manusia lokal adalah makhluk tanpa organ. Segala rasa sakit itu bermula dari jiwa. Mantra atau teks; oleh karena itu hadir menyehatkan rasa sakit yang diderita manusia. Obat yang bermateri kimiawi – digunakan dalam pengobatan modern – berasal dari kepongahan suatu kelas di masyarakat.

Kesadaran nilai medis modern yang ditawarkan oleh masyarakat positivistik tidak lebih merupakan proyek penciptaan kelas, di mana sakit dan sehat ditentukan oleh kelasnya, di mana jenis penyakit ditentukan berdasarkan posisinya di dalam masyarakat. Meskipun tidak bijaksana mengenalisir kasus tersebut, politik medis telah berkembang menjadi tatanan mapan dan tentunya selalu ada hirarki dalam sebuah sistem. Berbeda dengan bahasa, apalagi jika itu berasal dari kerendahan hati kepada alam yakni dengan melibatkan alam sebagai bagian dari relasi yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, ia tak tersusun dari hirarki apapun kecuali alam itu sendiri. Metafora yang dibangun pun tidak menciptakan absolutisme makna. Hanya berupa figurasi yang ambivalen, tanpa makna yang bulat.

Karena bahasa, sebagaimana Nietszhe, adalah metafora alam, tampaklah bahasa telah menginjak-injak alam dengan problem humanistik yang semakin tidak ramah semesta. Sastra pun semestinya hadir sebagai penyejuk di antara kompleksitas problem tersebut dengan kembali mendengar bisikan alam. Tidak sekadar dengan mereproduksi karya lama tetapi benar-benar menyimak bisikan alam semesta itu dengan rendah hati demi kemanusiaan.

Post Comment