Dunia Kafka

Suatu ketika seorang anak muda berusia lima belas tahun melarikan diri dari rumah. Namanya Kafka Tamura. Ia meninggalkan sekolah dan ayahnya. Menghindar dan menjauh dari kutukan sang Ayah. Kutukan yang misterius. Dan inilah saat yang dinantikan Kafka sejak dulu : meninggalkan rumahnya dan kota Tokyo.
Agar tidak terlihat mencolok, Kafka membawa perlengkapan seadanya dengan tas. Sebab dengan bawaan yang banyak atau tas yang besar, langkahnya akan mencurigakan bahwa ia kabur. Dalam perjalanan ia bertemu dengan Sakura, yang rupanya mengingatkan dirinya kepada seorang kakak. Kala tiba di kota Takamatsu, ia memutuskan tinggal di sebuah hotel. Selama beberapa hari aktivitasnya dihabiskan di sebuah perpustakaan milik keluarga hartawan bernama Tomura.
Di Perpustakaan Tomura Kafka membenamkan diri dengan membaca buku mulai pagi hingga sore hari. Kesukaannya membaca di perpustakaan bermula sejak kecil. Sebagai seorang anak kecil yang tak mau pulang kerumah, ia akhirnya memilih perpustakaan sebagai tempat persinggahan. Lagi pula hanya perpustakaan yang menjadi tempat terbuka dan bebas biaya di wilayahnya. Karena tak banyak tempat yang terbuka untuk anak kecil sepertinya, maka jadilah perpustakaan bagai rumah keduanya.
Selang beberapa hari, Kafka menemukan dirinya secara misterius. Ia terdampar di belakang kuil, di suatu tempat yang tidak diketahuinya. Ia tiba-tiba dalam keadaan penuh darah, yang tidak diketahui asalnya. Baju yang dikenakan terpercik darah. Saat itu, satu-satunya yang dapat Kafka lakukan ialah menghubungi Sakura. Suatu kebetulan ia menyimpan nomor handphone Sakura pada saat berkenalan di perjalanan beberapa hari sebelumnya. Lewat bantuan Sakura, ia lalu mengamankan diri. Kafka berusaha mengingat peristiwa apa yang dialaminya itu, tapi sungguh tidak punya ingatan mengenai itu.
Hampir Kafka tak bisa tidur karena memikirkan kejadiaan misterius itu. Namun Sakura menemani dan memberinya ketenangan. Tapi saat Sakura telah berangkat kerja, Kafka memutuskan untuk meninggalkan apartemen Sakura. Kafka pergi tanpa tujuan yang pasti. Dan satu-satunya arah yang ia jadikan tempat memikirkan sejenak ketidakpastian itu adalah Perpustakaan Tomura.
Disana, ia kembali bertemu Oshima, seorang penjaga Perpustakaan. Lewat Oshima, kembali Kafka menerima penginapan untuk sementara waktu. Oshima menawari Kafka ke sebuah pondok yang berada di pegunungan setelah mendengar persoalan yang dihadapi Kafka. Jaraknya dari perpustakaan di tempuh selama 3 jam. Tempat itu berada di dalam hutan dan hanya diketahui oleh Oshima dan kakaknya. Sebuah pondok yang dibangun kakak Oshima untuk menenangkan diri bagi keduanya. Disanalah Kafka mengamankan diri dari kewaspadaan pada peristiwa misterius yang dialaminya di belakang kuil.
Di pondok itu, Kafka merasakan ketenangan hidup. Ia menikmati udara segar dengan nuasa alam yang dipenuhi pepohonan. Saat hujan tiba, ia keluar pondok mandi tanpa pakaian. Meminum dan memanas air yang diambilnya di sungai. Masuk kehutan dengan hati-hati sebab disana sangat mudah tersesat, begitu yang pesankan Oshima. Karena di pondok itu terdapat koleksi buku Oshima, ia mengisi waktunya dengan membaca sembari menikmati masakannya.
Tiga hari disana, ia lalu dijemput Oshima. Membawa berita bagus untuk Kafka. Oleh pimpinan Perpustakaan Tomura, Nona Saeki, ia diterima bekerja dan tinggal di perpustakaan. Tugasnya hanya membuka, menutup, dan membersihkan perpustakaan. Di samping tentu menjadi asisten Oshima mengurus perpustakaan.
Sementara Oshima bekerja di perpustakaan, sebuah kabar tentang ayahnya muncul. Kabar yang diperoleh, Ayahnya meninggal terbunuh. Dan pelakunya belum ditemukan oleh Polisi. Namun polisi sedang mencari dirinya untuk dimintai keterangan. Sebab diketahui Kafka kabur dari rumah beberapa hari sebelum ayahnya terbunuh. Maka untuk menghindari pencarian yang dilakukan polisi, Oshima menyarankanKafka agar cukup berada di kamarnya saja. Tidak melayani pengunjung perpustakaan karena bisa saja ada yang mengenal wajahnya.
Saat malam pertama Kafka menginap di kamar perpustakaan, ia melihat sosok yang misterius. Di sana ia melihat perempuan sedang memandangi sebuah lukisan. Selama beberapa malam ia terus memperhatikan perempuan itu dengan posisi yang sama. Nanti ia tahu bahwa perempuan itu adalah “roh hidup” Nona Saeki yang berumur lima belas tahun. Yang pada akhirnya membuat Kafka jatuh cinta kepadanya.
Kafka berulang kali mendengar lagu Kafka di Tepi Pantai ciptaan Nona Saeki. Merenungkan lirik-lirik lagunya. Menafsir melodi. Setelah mendengar berkali-kali, Kafka mulai mengerti mengapa “Kafka di Tepi Pantai mampu menyentuh dengan lembut banyak orang. Sebuah lagu yang menghangatkan hatinya sendiri.
Kafka tak lagi mampu membedakan cintanya kepada Nona Saeki yang kini berusia lima puluh tahun dengan Nona Saeki yang berumur lima belas tahun. Dengan jujur, ia mengutarakan cintanya itu kepada Nona Saeki saat bertugas membawakan kopi di ruang kerjanya di lantai 2 perpustakaan.
Di situlah ia mulai menyadari kutukan ayahnya mulai beroperasi. Kafka sangat ingat bagaimana ayahnya bilang kepadanya : Aku akan membunuh Ayahku dan tinggal (tidur) dengan ibuku dan kakakku. Itu benar terjadi. Kafka bercinta dengan Nona Saeki, yang ia tahu (teorikan) itu adalah ibunya. Sementara Kafka menjamah Sakura (kakaknya) di dalam mimpi. Seakan-akan semua yang dikerjakan merupakan nasib yang diterima secara pasif.
***
Orang yang membunuh ayah Kafka adalah Nakata. Seorang kakek yang tidak bisa membaca dan menulis. Ia menganggap dirinya bodoh dan mendapat subsidi kota dari pemerintah. Ingatannya hilang saat masih kecil. Itu terjadi pada saat ia bersama teman sekolahnya diajak piknik oleh gurunya.
Perisitiwa itu bermula kala semua murid tiba-tiba pingsan di hutan. Saat mereka sadarkan diri, mereka tak lagi punya ingatan peristiwa itu. Dan satu-satunya murid yang tak sadarkan diri selama beberapa minggu adalah Nakata. Ketika Nakata siuman, ia tak lagi mengenal siapapun, termasuk dirinya.
Dari pengakuan gurunya peristiwa itu bermula dari dirinya. Ketika mengawal murid-murid, ia merasakan dirinya sedang bercinta dengan suaminya. Perasaan itu seakan-akan menghampirinya secara nyata. Mimpi yang erotis, dan membuatnya menstruasi. Tak ayal, ia mencari tempat untuk membersihkan dirinya. Ia mengubur handuk yang digunakan. Tetapi entah bagaimana bisa terjadi, Nakata menemukan handuk penuh darah itu. Saat Nakata menunjukkan handuk tersebut, gurunya itu begitu marah, lantas menampar Nakata hingga pingsan. Anehnya murid-murid yang lain ikut pingsan. Begitulah ceritanya Nakata kehilangan kemampuan membaca.
Karena tak mampu membaca, Nakata hanya mengerjakan keterampilan teknis. Ia menjadi pembuat mebel model tradisional selama berpuluh-puluh tahun. Hingga akhirnya perusahaan yang ditempati bekerja gulung tikar karena pimpinan perusahaan meninggal. Nakata pun kehilangan pekerjaan. Tapi setelah itu, dengan kemampuan unik yang dimiliki Nakata, yakni bisa berbicara dengan kucing, memberinya pekerjaan sebagai pencari kucing.
Saat Nakata mencari kucing peliharaan warga bernama Goma, disitu ia berjumpa dengan Ayah Kafka. Begitu berada di rumah Ayah Kafka, ia begitu kaget dengan Ayah Kafka (Johnnie Walker) yang membunuh dan mengoleksi kepala kucing. Di depan Nakata, bahkan terlihat bagaimana Ayah Kafka membedah kucing satu persatu. Dan yang paling mengerikan, saat Ayah Kafka memakan jantung kucing yang dibedah. Tentu saja itu dilakukan untuk memancing Nakata agar membunuh dirinya. Hingga diujung yang tak tertahankan lagi, Nakata menusuk dada Ayah Kafka. Yang anehnya, Ayah Kafka tertawa dan merasa menang karena berhasil merayu Nakata untuk membunuh dirinya. Memang itulah tujuan Ayah Kafka memanggil Nakata.
Nakata melaporkan dirinya ke polisi bahwa telah membunuh seseorang. Tetapi polisi tak mempercayainya. Meski barulah kemudian polisi itu menyesal dan berusaha menutupi laporan itu. Tetapi pada saat polisi telah mengetahui pelakunya, Nakata telah bepergian di suatu tempat. Beberapa hari siaran berita mengabarkan penyelidikan kematian Johnnie Walker yang dikenal sebagai pematung (seniman) Jepang terkenal itu.
Dalam bepergian, Nakata sungguh menemukan banyak kesulitan menggunakan moda transportasi. Karena, Nakata tidak bisa membaca. Tetapi keberuntungan selalu meliputi dirinya. Yang tak terduga, ia membuat peristiwa aneh seperti jatuhnya Ikan Sarden dan lintah dari langit. Ia bertemu banyak orang yang mau mengantarnya pergi di suatu tempat. Hingga berjumpa dengan Hoshino, seorang supir truk, yang akhirnya setia bersama Nakata hingga meninggal.
Bersama Hoshino, Nakata akhirnya berjumpa dengan Nona Saeki di Perpustakaan Komura. Nona Saeki bilang telah lama menunggu Nakata. Mereka berbincang. Dan pertemuan keduanya diakhiri dengan permintaan Nona Saeki agar Nakata membakar tulisannya. Suatu tindakan yang kontras dengan Nakata, di saat ia berhasrat kembali bisa membaca. Setelahnya, Nona Saeki meninggal dengan wajah yang tenang.
Hoshino membantu Nakata mencari Batu Masuk. Mengantarnya kesana kemari. Bahkan menunggui Nakata yang tertidur selama tiga hari penuh. Hingga Nakata meninggal, Hoshino tetap setia menjalankan pesan Nakata, yakni menutup pintu Batu Masuk.
***
Nakata dan Kafka berbeda dunia, namun di alam metafisik kisah keduanya terhubung.


Post Comment