×

Membaca, Mengeksplorasi Potensi

Buku adalah representasi utama dalam dunia literasi. Buku sudah pasti memiliki penulis, tapi seorang penulis belum tentu mampu menciptakan sebuah buku. Sebagai penulis, juga musti banyak membaca, jika ingin berkelana dalam dunia inspirasi dan dunia kata-kata. Membudayakan membaca buku berarti menghidupkan sebuah peradaban. Sebab dinamika kehidupan manusia dan peradabannya banyak terabadikan dalam sebuah tulisan (buku). Begitulah Pramoedya Ananta Toer kerap menganggap dunia literasi adalah dunia keabadian.

Tak hanya Pramoedya, begitu pula dengan Chairil Anwar, Soe Hok Gie, Wiji Thukul, WS Rendra dan sastrawan serta pemikir lainnya yang akrab dengan literasi. Walau mereka telah tiada tetapi karyanya senantiasa hidup. Bahkan semakin digemari dan dicari-cari. Kontribusinya terhadap bangsa terus dikenang hingga hari ini.

Benar Carlos Maria Dominguez dalam novel Rumah Kertas, bahwa buku mengubah takdir hidup orang-orang. Carlos mengisahkan seorang sepuh pengajar bahasa-bahasa kuno, Leonard Wood, lumpuh setelah lima jilid Ensiklopedia Britannica jatuh menimpa kepalanya dari rak perpustakaannya. Seorang temannya, Richard patah kaki waktu mencoba menjangkau buku Absalom, Absalom! karya William Faulkner yang ditaruh menyempil di rak sampai ia terpelanting dari tangga. Temannya yang lain, Buenos Aires terkena tuberkolosis di gudang bawah tanah gedung arsip. Dan bahkan, seekor anjing di Cile mati salah cerna gara-gara menggigit halaman-halaman novel Karamazov Bersaudara. Memang sangat gokil dan konyol!

Entahlah, cerita Carlos itu diangkat dari kisah nyata atau sekedar fiktif belaka. Tapi ada yang lebih nyata dan saya yakini, bahwa banyak orang terbukti berdaya dan menjadi besar karena bergiat dengan buku. Seperti yang diulas Suherman dalam bukunya Mereka Besar KarenaMembaca.

Tidak sedikit negarawan di negeri ini ‘terbit’ karena terinspirasi dunia baca. Siapa yang tak kenal ketekunan Soekarno dalam membaca? Ia dijuluki manusia kutu buku. Menghabiskan waktu, duduk berjam-jam berteman dengan buku. Masa mudanya digelorakan dengan membaca. Dan kelak, ia menjadi presiden pertama di negeri ini.

Adakah yang menyaingi kepasrahan Mohammad Hatta hidup bersama buku? Ia rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku ia merasa bebas berkelana. Lalu, tahanan mana yang se-produktif Tan Malaka? Memuliakan waktunya dengan menulis buku, kala diasingkan dari penjara ke penjara. Atau konsistensi seorang Gus Dur dalam membaca? Mengoleksi banyak buku di rumahnya.

Mereka segelintir orang yang dalam kehidupannya akrab dengan buku. Dan masih banyak tokoh yang tak tersebutkan. Andai saja, masyarakat kita adalah masyarakat yang giat membaca, barangkali sosok seperti mereka tak jarang dijumpai di negeri ini.

Sekiranya kita menyadari perbedaan konteks kebebasan ‘berliterasi’ zaman dulu dengan sekarang. Jika dulunya, dunia literasi kerap dibayangi oleh ancaman-ancaman bernuansa politis. Sehingga terjadi pemusnahan dan penghancuran buku-buku berdasarkan ideologi dan alasan tertentu. Meminjam istilah Fernando Baez dalam bukunya Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, yaitu biblioklasme atau librisida adalah suatu tindakan memusnahkan dan menghancurkan buku.

Pengawasan ketat terhadap dunia literasi jelas merugikan masyarakat. Sebab, buku merupakan medium masyarakat untuk mengisterpretasikan lingkungan sekitarnya. Karena itu, menghancurkan atau membakar buku, bagi Heinrich Heine pada akhirnya membakar manusia. Bahkan Milan Kundera memberi isyarat, jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.

Dan di Indonesia sendiri sudah pernah terjadi. Buku-buku yang dianggap “terlarang” atau “bacaan liar” dilenyapkan dari publik. Diantaranya buku Tetralogi Pramoedya, yang sempat rehat dari dunia penerbitan karena tak harmonis dengan kepentingan politis rezim kala itu. Banyak buku-bukunya dilenyapkan. Sungguh tindakan yang tidak manusiawi. Bahkan di semua rezim, mulai dari masa kolonialisme, orde lama, orde baru dan reformasi, tak luput dari peristiwa pelarangan buku. Ironi terbaru, kali ini datang dari beberapa mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Indonesia, yang terkena sanksi karena membaca buku yang dicap beraroma kiri.

Sebenarnya nuansa demokrasi ala reformasi telah memberi angin segar. Orang-orang sudah leluasa menuliskan buku apa saja, dan membawanya kemana yang ia suka. Membaca yang berhaluan kanan dan kiri. Hanya serpihan dan bayang-bayang pola pikir orde sebelumnya masih sering mengangetkan. Sehingga bagi kalangan/kelompok tertentu, masih suka menyisakan sensor dan tabu.

Namun terlepas dari itu semua, tidak ada lagi alasan untuk tidak bersua dengan buku-buku bertema apa pun. Baik di toko buku maupun tempat membaca. Apalagi di kota-kota semakin banyak berdiri ruang baca yang menyediakan bacaan variatif. Dan saat ini pula semarak berdiri perpustakaan desa dan taman bacaan. Disamping perpustakaan bergerak melalui moda transportasi semakin intens mengunjungi masyarakat (Tak terkecuali di Bumi Massenrempulu). Dan sudah selayaknya, jika ruang baca didesain sebagai ruang demokratis dan medium pemberdayaan masyarakat.

Perkembangan literasi tersebut harus dibarengi dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membaca. Sebab, ruang baca telah terbuka luas. Tinggal memeriahkan nuansanya dengan berbagai pola pendekatan dan kegiatan. Efektifnya memang, kalau kesadaran itu terbentuk dari adanya pemahaman bahwa membaca itu baik. Baik karena mengamalkan perintah Iqra’ dalam al-Qur’an dan agama-agama lain yang berbasis teks suci, maupun karena membaca adalah hukum alam dan keharusan beradaptasi dalam kepungan peradaban aksara. Itu artinya, tak ada cara lain selain memaksa diri untuk membaca. Tentu kita tak ingin menunggu lama hingga buku-buku diberangus dan membaca dilarang lagi kan?

Sejatinya, membaca buku berarti mengeksplorasi potensi. Jika tak percaya, maka bacalah buku! Kalaupun buku tak mampu mengubah takdir anda setelah membacanya, maka tinggalkan buku. Kalau perlu sembunyikan rapat-rapat saja, sebab buku itu sebenarnya berbahaya! Bahayanya ialah jika anda kecanduan membaca, anda akan menguasai dunia.

Post Comment