Dadang Sumarna: Kita Harus Siap Jadi Masyarakat Wisata
Sebagai penikmat sekaligus pegiat wisata, Dadang Sumarna pernah berpikir bagaimana agar dunia pariwisata di Kabupaten Enrekang lebih maju. Ia memimpikan dengan masuk di instansi terkait, gebrakan akan lebih mudah dilakukan.
Bak gayung bersambut, mimpi tersebut jadi kenyataan. Pertengahan Januari 2020, ia dilantik menjadi kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang.
Di awal kepemimpinannya, ia berjanji akan mengupayakan kerja kolaboratif dengan semua pihak yang peduli terhadap kemajuan pariwisata di Enrekang.
Tim Kulimaspul.com berkesempatan melakukan wawancara dengan bapak empat anak ini, di kantornya, Kamis 30 Januari 2020. Berikut petikan wawancaranya:
Alhamdulillah, sebelumnya kami ucapkan selamat kepada Bapak sebagai Kepala Dispopar yang baru.
Terima kasih.
Sebenarnya apa yang menarik dari dunia pariwisata menurut Bapak?
Menurut saya memang wisata itu sensitif dan seksi. Sisinya memang banyak dilirik orang. Tapi kemampuan untuk mengangkat wisata memang betul-betul perlu kerja ekstra.
Di samping penikmat, saya adalah pelaku wisata khususnya wisata alam karena saya adalah seorang pemanjat tebing, pendaki gunung.
Untuk wisata ekstrem saya pelakunya, sehingga saya biasa berpikir kapan saya bisa masuk untuk menyampaikan aspirasi. Itu yang membuat saya termotivasi untuk menuju ke tempat ini.
Saya tidak mau target terlalu tinggi tetapi hanya membenahi apa yang ada dulu. Setelah itu baru berpikir bagaimana yang lain.
Sebagai contoh ada dua objek sekarang yang ramai dikunjungi yang pertama Villa Bambapuang. Villa Bambapuang itu cukup bagus fasilitasnya tetapi belum berfungsi dengan baik. Mungkin untuk ke depan kita perbaiki sehingga wisatawan-wisatawan di samping melihat bagaimana gunung Nona, juga bisa menikmati sajian-sajian di sana (kuliner).
Yang kedua saya sejak 1997 adalah relawan Latimojong. Semua yang mau ke Latimojong harus ke rumah saya baik yang dari dalam negeri maupun luar negeri. Mereka itu nginap gratis di rumah saya. Sejak 1997 sampai sekarang.
Saya biasa berpikir, seandainya saya berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk bisnis ini, luar biasa. Ini yang saya harus dikembangkan sehingga untuk ke depan minimal mereka (wisatawan) datang ke Latimojong tetapi uangnya tinggal untuk kesejahteraan masyarakat, utamanya masyarakat di sana.
Untuk tahun lalu saja pengunjungnya sampai 3000-an. Retribusi kalau kita jalankan berapa memang mi. Belum lagi masyarakat yang menikmati. Jadi untuk ke depan ini saya fokus edukasi masyarakat bagaimana tamu-tamu yang berkunjung ke Latimojong uangnya tinggal sehingga masyarakat bisa menikmati hasil dari edukasi tadi. Itu yang membuat saya tertarik untuk wisata ini.
Seperti apa rencana atau visi terkait pengembangan wisata ke depannya?
Jadi untuk mengembangkan wisata ini memang tidak harus bekerja sendiri. Saya harus memanfaatkan apa yang ada terutama pihak-pihak luar yang mau berkolaborasi dengan dinas ini. Umpamanya para pemerhati wisata yang ada di luar insya Allah kita akan panggil mereka untuk memikirkan ini. Sehingga wisata di Enrekang ini bukan hanya sekedar dilalui oleh wisatawan tetapi memang menjadi destinasi.
Kita sudah melihat perkembangan wisata di Enrekang, khususnya yang dikembangkan secara mandiri/swadaya oleh masyarakat, bagaimana respons Bapak?
Jadi memang kita harus duduk bersama untuk membicarakan hal ini. Dispopar tidak harus otoriter menyampaikan program ke bawah. Saya harus mendengarkan dulu apa maunya masyarakat.
Setelah itu dilihat program yang ada di sini (Dispopar) apakah cocok atau tidak. Saya kira harus juga lakukan pendekatan persuasif terutama pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda bagaimana mengangkat wisata di Kabupaten Enrekang ini.
Yang jelas semua yang kita lakukan nanti punya dampak dan resiko. Ini yang harus kita cermati bersama. Paling bijak adalah meminimalisir resiko pada objek-objek wisata yang kita angkat.
Kemarin beberapa desa didorong menjadi desa wisata atau mendorong Bumdes untuk pengembangan wisata, apakah Dispopar telah atau akan turut mendampingi usaha yang seperti itu?
Kemarin saya sudah ketemu dengan kepala desa Bone-Bone dan sudah siap untuk menghadapi wisatawan-wisatawan ke depan. Termasuk desa tetangganya (Pepandungan) yang sudah mau meniru Bone-Bone sebagai desa bebas asap rokok.
Di Desa Pepandungan, Bupati sudah meresmikan jalur baru untuk pendakian Latimojong. Saya rasa tanpa sosialisasi pun masyarakat sudah tahu bahwa jalur yang dibuka itu akan dilalui wisatawan dan kita harus siap untuk menjadi masyarakat wisata.
Terkait fasilitas pendukung objek wisata, seperti apa upaya dalam memaksimalkan?
Jadi saya harus selalu meyakinkan Bupati bahwa tanpa fasilitas yang memadai, wisatawan enggan untuk berkunjung ke objek wisata, terutama jalannya.
Latimojong itu termasuk salah satu destinasi yang sudah mendunia. Memang banyak yang mau tantangan, tidak usah diperbaiki jalannya, karena tantangnnya di situ. Banyak juga wisatawan yang mau sebaliknya. Tapi Alhamdulillah bapak Bupati paham. Apalagi bapak wakil Bupati adalah orang Latimojong.
Untuk fasilitas kita harap ada perbaikan. Kendala kita adalah air. Tapi tahun ini kita sudah ada niat bagaimana supaya air itu bisa ada di setiap pos sehingga pendaki tidak harus menginap di pos 2, 5, atau 7 yang ada airnya. Tidak seperti yang lalu harus kejar ke pos 7. Tenaga sudah habis, kita hanya mampu sampai ke pos 4.
Ke depan juga kita rencana buat shelter agar pendaki bisa menikmati pendakian tanpa harus bawa tenda. Saya pernah meminta Bupati untuk membuatkan home stay di sana, mudah-mudahan terealisasi sehingga pendaki dari luar tidak pusing di mana stay kalau mereka datang.
Di Karangan itu betul-betul alami. Kadang tamu-tamu yang dari luar negeri tidak dapat pelayanan yang standar. Sehingga ada yang baru tiba, langsung kembali (pulang).
Jujur untuk wisatawan asing itu luar biasa. Di rumah saya bahkan ada yang nginap sampai empat hari. Hanya biasa dia tidak terurus karena itu, tidak tahu berbuat apa karena fasilitasnya juga. Kita harus genjot sehingga pengunjung bisa lebih banyak lagi.
Ada berbagai kategori wisata, seperti wisata alam, religi, edukasi, konservasi, dan lainnya, nah manakah yang akan dijadikan prioritas?
Saya hanya mau memperbaiki yang sudah ada saja dulu. Saya tidak mau terlalu jauh bereksplorasi. Tetapi sambil mengembangkan yang sudah ada, kita kembangkan potensi sehingga wisatawan bisa konsen.
Teman-teman yang lain kita arahkan eksplorasi ke objek wisata lain. Banyak objek wisata tidur sebenarnya di Enrekang. Seperti di Baraka itu ada Gua Bubau yang kami temukan sekitar tahun 90-an dan tidak tersentuh sampai sekarang.
Termasuk juga wisata budaya di Tontonan yang juga ada di Dea Kaju. Tebing yang ada peti-peti di dalamnya. Ini juga akan kita kembangkan semua, tetapi ada yang harus kita kembangkan dulu untuk memancing yang lain. Kalau saya harus memikirkan semuanya, saya takut yang produktif akan terbengkalai.
Kita tahu informasi dan promosi penting dalam dunia pariwisata. Seperti apa upaya yang akan dilakukan ke depan?
Setelah ini rampung saya mau kumpulkan semua SKPD yang ada agar menyampaikan ke semua lapisan.
Sebenarnya objek itu bisa viral karena dari kita ke kita ji. Biasanya kalau orang bilang Resting itu bagus tetapi yang lain bilang tidak bagus, orang tidak akan ke sana. Begitu pula sebaliknya.
Jadi saya harus menyampaikan ke semua orang bahwa wisata ini akan berkembang kalau kita bisa komitmen jadi masyarakat wisata.
Juga paling penting menurut saya adalah berkolaborasi dangan media. Media menurut saya yang paling cocok untuk mempromosikan ini. Tanpa media saya rasa tidak bisa terjadi. Karena mereka yang harus bekerja.
Dispopar punya 2 bidang selain mengurus pariwisata, pemuda dan olahraga. Di desa ada Karang Taruna yang mungkin selama ini sudah banyak memfasilitasi kegiatan olahraga, lalu banyak juga Kelompok Pecinta Alam (KPA), apakah ada upaya dan strategi menyentuh mereka untuk turut terlibat dalam pengembangan wisata di desanya?
Jadi semua stakeholder yang mengarah ke pariwisata saya akan panggil mereka agar bercerita apa kemauan mereka dan kita akan tempatkan sesuai minat masing-masing.
Apakah ada apresiasi yang akan diberikan kepada warga yang giat dengan pengembangan pariwisata?
Pastilah. Jadi kita harus ada perhatian khusus, terhadap semua pemerhati dan penggiat-penggiat wisata perlu diberikan apresiasi. Karena merekalah wisata akan bertahan.
Post Comment