×

What It Takes Asia Tenggara: Pandangan Seorang Asia Tenggara

Pada tahun 2025, Gita Wirjawan menulis sebuah buku penting. Titik berangkat buku ini adalah kegelisahan seorang Gita Wirjawan dalam melihat Asia Tenggara. Buku ini adalah buah dari pengalaman, hasil diskusi panjang bersama para akademisi, pemikir cum intelektual Asia Tenggara, Asia hingga Eropa, bersama praktisi, serta berbagai narasumber di podcast Endgame yang dibinanya. Ulasan buku sebagian besarnya adalah hasil dari diskusi di Precourt Institute for Energy, Doer School of Sustainabiliy di Universitas Stanford tempat Gita menjadi visiting scholar; di Harvard University, dan di School of Government and Public Policy (SGPP) di Indonesia tempat dimana ia menjadi penasehat sejak 2014.

Telaah bersama David Cohen, Thomas Fingar, Scot Marciel, serta Natalie Longmire-Kulis membantu Gita menjadikan tiga publikasi kunci yang menjadi kerangka dasar penulisan buku ini. Menariknya, buku ini mengcapture permasalahan-permasalahan utama yang dihadapi negara-negara ASEAN di kawasan yang kemudian dinarasikan dari sudut pandang seorang Asia Tenggara. Secara garis besar buku ini membahas delapan tema penting; sejarah, modal ekonomi, pendidikan, keberlanjutan (sustainability), internet, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), BRICS+ dan BRI, Vektor Asia Tenggara.

Delapan topik dalam buku ini merangkum penelitian dan pengamatannya selama delapan tahun terakhir dan memberi penulis kerangka epistemik dalam mendedahkan analisisnya sekaligus menggambarkan peta jalan yang harus dilakukan para pemimpin Asia Tenggara untuk keluar sebagai pemain penting di kancah global. Tetapi bagi saya, secara garis besar, topik yang cukup menonjol yang dilengkapi data dan gagasan bernas dari Gita dalam buku ini ada tiga, yakni ekonomi, pendidikan, dan geopolitik. Ketiga topik ini menurut saya -setelah membaca buku ini- adalah pembahasan-pembahasan krusial yang dihadapi Asia Tenggara.

Vektor Asia Tenggara

Untuk membahas buku ini, mula-mula penting mengetengahkan fakta Asia Tenggara sebagai kawasan yang unik dan strategis. Jika melihat sejarah panjang, faktor geografis-demografis, dan budaya yang beragam, maka tidak ada alasan bagi pemimpin Asia Tenggara berkutat di tepi kesadaran global. Kawasan yang didominasi 60-70% laut ini menyimpan potensi besar yang dapat menopangnya menjadi kekuatan inti dunia. Dalam buku ini, Gita menarasikan cukup baik beberapa problem mendasar yang menghambat kemajuan Asia Tenggara.

Pertama, mengapa kawasan sebesar Asia Tenggara dengan populasi terbesar ketiga setelah India, Tiongkok dan ekonomi terbesar keenam setelah AS, Tiongkok, Uni Eropa, Jerman, dan Jepang belum mendapatkan pengakuan signifikan di mata dunia. Bagi Gita, jawabannya adalah oleh karena penduduknya belum mampu secara kolektif memproyeksikan hard power dan soft power cukup kuat.

Jawaban ini masuk akal. Pasalnya, kawasan ini belum mampu memproduksi ponsel kelas atas yang digunakan oleh miliaran orang di dunia. Fakta ini salah satunya terjadi di Indonesia. Di pasar domestik, ponsel buatan lokal: Advance, Evercross, Polytron sepi peminat. Faktor segmentasi dan kebijakan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang merakit ponsel asing di dalam negeri cenderung menjadi penghambat pasaran ponsel buatan lokal lesu di dalam negeri sendiri. Tetapi bukan itu poinnya. Saya ingin menjelaskan secara sederhana bahwa produksi perangkat canggih lokal berpengaruh besar terhadap posisi suatu negara di panggung global. Negara dengan ekosistem inovasi tinggi, pemrograman, teknologi canggih, dan industri manufaktur yang kuat adalah daya tawar menarik modal moneter finansial ke dalam negeri yang pada gilirannya dapat mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan yang lebih tinggi.

Ini penting dijawab, sebab permasalahan utama Asia Tenggara adalah pertumbuhan ekonomi. Buku ini menjelaskan bagaimana kegagalan akumulasi modal asing masuk ke Asia Tenggara. Perekonomian Asia Tenggara yang memiliki rasio pajak yang relatif rendah yang hanya berkisar 10 sampai 16 persen jauh tertinggal oleh negara maju yang melampaui 30 persen. Sementara, pendapatan per kapita sebagian besar negara Asia Tenggara di bawah 5.500 dolar AS. Kondisi ini menyebabkan rasio PDB negara-negara tersebut rendah. Sebagai perbandingan, PDB per kapita negara-negara Asia Tenggara tercatat sebesar 15.156 dolar AS di luar Singapura dengan 84.734 dolar as per kapita. Menurut Gita, faktor ini disebabkan karena minimnya arus pergerakan modal asing kecuali Singapura. Singapura dalam konteks ini adalah negara maju di kawasan Asia Tenggara dengan jumlah PMA (Penanaman Modal Asing) sebesar 214 miliar dolar AS.

Permasalahan ini kelihatan sangat sederhana. Tetapi bagi Gita, Singapura sejak lama menjadi negara penerima utama PMA dalam jumlah besar bukan karena jumlah populasi, melainkan berkat reputasinya mengadopsi sistem dan institusi demokrasi liberal. Kemampuan menarik investor modal asing ke dalam suatu negara tidak selalu ditentukan oleh jumlah populasi, letak geografis, ideologi, atau melimpahnya sumber daya alam. Keberhasilan Singapura ditentukan oleh metode dan pendekatan. Dalam hal ini, Singapura menerapkan sistem Easy of Doing Business (kemudahan berbisnis). Sebab itu, Singapura dipercaya sebagai negara utama mitra investor asing di Asia Tenggara. Struktur yang sehat, bersih, akuntabel dan transparan adalah sebab citra yang baik untuk menarik para investor dunia.

Berbanding terbalik dari Singapura, negara Asia Tenggara lainnya menghadapi kesulitan menarik modal asing. Kesulitan sebagian besar negara Asia Tenggara terletak pada kegagalan strategis, yakni kompetisi bisnis yang kurang sehat, tata kelola pemerintahan yang buruk, dan infrastruktur yang macet. Selain itu, masalah korupsi yang merajalela dan nepotisme akut menjadi hambatan spesifik tak terkecuali Indonesia. Wabil khusus Indonesia. Rapor korupsi kita mendapat nilai merah. Di banyak lembaga riset dan survei independen menyebut angka korupsi di Indonesia paling tinggi di Asia Tenggara setara Laos dan di atas Singapura, Malaysia, Vietnam dan Timor Leste. Ditambah lagi fakta bahwa pembangunan ekonomi di Indonesia bersifat sentripetal, di mana pembangunan yang berpusat di kota-kota seperti Jawa mengakibatkan gap pembangunan ekonomi di daerah-daerah dan di kota. Oleh karena itu, para pemimpin Asia Tenggara harus menunjukkan pergeseran yang nyata menuju kepemimpinan meritokratis agar hambatan-hambatan tersebut hilang perlahan demi perlahan demi tujuan menarik modal asing.

Permasalahan kedua, pendidikan. Semua orang bersepakat bahwa daalam pendidikan, pengajaran berkualitas akan membantu mengembangkan satu aset penting dari seorang siswa: kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis mencakup daya adaptasi dan daya saing terutama di tengah zaman yang melaju sangat cepat. Faktor perubahan ini didorong oleh kecanggihan teknologi, ekonomi, dan geopolitik. Untuk itu, mengajari seni berpikir kritis bagi siswa adalah sine qua non (syarat mutlak). Guru cakap, kompeten, dan berkualitas sangat dibutuhkan. Dalam buku ini, Gita menunjukkan satu argumen menarik. Bahwa pendidikan sebenarnya lebih banyak berkaitan dengan imajinasi ketimbang formulasi. Seorang guru dengan bekal pengetahuan fisika yang kuat yang diimbangi dengan kepiawaian bercerita jauh lebih bisa memantik kreativitas dan imajinasi siswa dari pada guru yang hanya memiliki pengetahuan fisika yang kuat tapi tidak mampu bercerita.

Faktanya, sebagian besar siswa di Asia Tenggara tidak dididik oleh guru yang berkualitas. Penyebabnya beragam. Penyebab utama adalah tidak terbukanya peluang kolaborasi pendidik dan pelajar dalam negeri dari luar negeri, sehingga peluang berbagi perspektif dan insight lintas negara nyaris tidak ada. Padahal, pendanaan pertukaran pendidik atau pelajar berguna untuk memberi peluang kepada mereka mengakses pengetahuan dari sumber terbaik, kemudian memberi mereka peluang berkontribusi dalam negeri setelah menyelesaikan studi. Selain itu, keterbukaan pikiran dalam pengalaman Gita, adalah masalah berikutnya, kendati investasi di bidang pendidikan memang masalah pokok. Hal ini terlihat dari skor PISA IQ orang Asia Tenggara yang berada di bawah rata-rata, Singapura sebagai pengecualian.

Padahal peningkatan jumlah mahasiswa internasional yang kuliah di dalam negeri tidak hanya memperkaya keberagaman wacana di ruang kuliah, tetapi mendorong kolaborasi yang lebih luas. Tidak bisa dinafikkan, keterbukaan pikiran yang diperoleh dari keterpaduan keberagaman gagasan dengan keterbukaan terhadap pengalaman baru adalah resep lahirnya peradaban besar. Hal lain yang lebih krusial di sektor pendidikan adalah perguruan tinggi. Kawasan Asia Tenggara memiliki sepuluh ribu perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswanya sekitar sembilan belas juta orang yang tersebar di seluruh kawasan.

Universitas bukan hanya tempat pendidikan bagi mahasiswa menjadi praktisi sekaligus peneliti, tetapi tempat memproyeksikan soft power bagi suatu negara. Menurut Gita, kampus-kampus yang ada di Asia Tenggara harus memperhatikan pendidikan vokasional dengan cara yang lebih baik dan tak kalah penting dan mendesak adalah memberikan akses lebih luas kepada mahasiswa dalam disiplin ilmu sains, teknologi, engineering, dan matematika. Cermin kemajuan STEM terutama di Asia itu adalah Tiongkok. Melalui STEM, Tiongkok memproyeksikan soft power-nya melalui penciptaan dan manufaktur berbagai barang dan jasa dengan kualitas yang sangat kompetitif dengan harga murah.

Fokus tunggal Tiongkok pada STEM menjadikannya negara sebagai pusat utama manufaktur dunia dengan persentase 35 persen barang dan jasa di dunia dengan produktivitas marginal yang sulit tertandingi dalam waktu dekat. Bandingkan dengan Asia Tenggara dengan jumlah lulus STEM sekitar 20 persen dari total seluruh negara kawasan yang kalah jauh dari Tiongkok dengan angka 41 persen.  Pencapaian pada bidang STEM membawa Tiongkok pada supremasi teknologi di industri elektronik, energi terbarukan, kendaraan listrik, dan drone melampaui Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang dulu dikenal sebagai pemimpin inovasi di bidang teknologi.

Jika Amerika Serikat dan negara-negara Barat dikenal berhasil melakukan lompatan teknologi dari titik nol ke satu angka sebagaimana peluncuran Apollo di bulan serta penemuan iPhone sebagai brand ambassador yang mendefinisikan ulang teknologi seluler. Maka, saat ini Tiongkok melesat dua langkah. Tiongkok tidak menggeser angka nol ke satu, melainkan dari satu angka ke angka berikutnya.

Fakta ini tidak terbantahkan. Terbukti bahwa dominasi afiliasi perusahaan AS; FAANG (Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan Google) dirobohkan oleh BAT (Baidu, Alibaba, dan Tencen), milik Tiongkok. Dua negara ini tidak salah jika disebut sebagai musuh abadi. Di bidang AI, kecerdasan buatan, kontestasi keduanya berlanjut. ChatGPT yang diproyeksikan sebagai AI paling akurat, kini terpental dengan munculnya DeepSeek-R1, sebuah model bahasa LLM (Large Language Model) berbasis open sources milik perusahaan Tiongkok yang diklaim mampu menyaingi ChatGPT milik OpenAI dengan biaya murah beberapa kali lipat serta lebih akurat.

Tak pelak lagi. Penguasaan pada STEM adalah modal negara mana pun sangat penting untuk memajukan inovasi teknologi yang pada gilirannya menciptakan titik temu penawaran dan permintaan barang jasa. Untuk itu, mendorong kualitas pendidikan terutama di bidang STEM adalah tanggung jawab kepemimpinan nasional merumuskan ulang format masing-masing negara untuk memastikan alokasi kebijakan fiskal, moneter, dan kebijakan lainnya secara optimal demi mendorong inovasi teknologi yang kuat.

Permasalah ketiga yang jauh lebih menentukan, geopolitik. ASEAN sejatinya merupakan refresentasi geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi Asia Tenggara di kawasan. Sepuluh negara di dalamnya; Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Singapura, adalah organisasi antar pemerintah yang berdiri dengan tiga pilar utama, yakni keamanan politik dan perdamaian regional, komunitas ekonomi, dan komunitas budaya. Di kawasan, ASEAN berpegang pada prinsip subsidiaritas yang kerap disebut prinsip nonintervensi, di mana negara-negara anggota tidak diperbolehkan mengintervensi urusan yurisdiksi dalam negeri negara-negara anggota, kecuali jika menyangkut isu kawasan atau global.

Dalam kajian geopolitik, posisi Asia Tenggara dalam kaitannya terhadap kontestasi AS-Tiongkok relatif netral. Menjaga hubungan baik terhadap kedua negara adidaya tersebut adalah keniscayaan. Amerika Serikat tengah mendorong tatanan dunia dengan prinsip multipolaritas dengan sistem aliansi dengan gaya baru. Saat Donald Trump kembali terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, kebijakan ekonomi proteksionis diumumkan. Pemberlakukan kebijakan tarif dagang segera diberlakukan demi ambisi Make America Great Again.

Sementara, Tiongkok dengan kebijakan Belt Road Inisiative-nya tetap berfokus pada peningkatan konektivitas perdagangan dengan tujuan pembangunan infrastruktur; jalan, pelabuhan, kereta cepat, yang menghubungkan Asia hingga Amerika dengan tujuan mengamankan suplai energi dan meningkatkan pengaruh politik dan ekonomi di dunia. Di tengah persaingan geopolitik yang terjadi di depan mata terutama yang terjadi di Timur Tengah, Asia Tenggara harus memainkan peran proaktif untuk memajukan sekaligus melindungi kawasan. Asia Tenggara telah beradaptasi dari pengalaman kolonial di masa lalu, sehingga cukup mahir merangkul multipolaritas.

Hal ini terlihat dari kemampuan Asia Tenggara menerima multikultural, multiekonomi, dan multiagama tanpa mengalami banyak pertumpahan darah. Sebab itu, kerangka kerja multilateral perlu didorong untuk meningkatkan partisipasi aktifnya di kancah global. Menurut Gita, pemimpin Asia Tenggara perlu mempertimbangkan keanggotaan mereka di OECD dan BRICS serta organisasi multilateral dunia lainnya. Keanggotaan ini adalah nilai strategis demi memperkuat posisi dan pengaruh dalam tatanan geopolitik.

Dalam konteks ekonomi misalnya, BRICS memiliki PDB 29 persen dari total PDB dunia, yaitu 30 triliun dolar AS, sementara negara G7 sebesar 39 persen atau setara 45 triliun dolar AS. Kehadiran BRICS dan G7 menjadi faktor penting untuk pembangunan Asia Tenggara. ASEAN dalam hal ini, harus melihat BRICS dan G7 sebagai keuntungan strategis. Menjalin kerjasama erat terhadap AS dan Tiongkok akan memperbesar peluang memperoleh modal teknologi dan ekonomi. Apalagi memang, hambatan finansial menjadi sebab lesunya pembangunan industri teknologi bagi negara-negara Asia Tenggara. Terlepas dari pertanyaan apakah pendekatan itu berhasil atau tidak, pada akhirnya pendekatan ini bertujuan menghilangkan asimetri perdagangan dan menciptakan keseimbangan ekonomi. Partisipasi aktif dalam berbagai organisasi kerjasama internasional lainnya seharusnya dipandang sebagai konsekuensi alami dari perjalanan panjang kawasan ini.

Untuk Indonesia, posisinya sebagai primus inter pares, yakni pertama diantara yang setara, perlu memainkan perannya bukan hanya sebagai natural leader (pemimpin alami) ASEAN, tetapi menjadi penentu arah dan agenda. Di antara negara-negara ASEAN, Indonesia adalah negara yang mungkin unggul dalam beberapa bidang. Karena itu, posisinya sebagai pemimpin natural, harus bisa memimpin ASEAN setidaknya dalam empat isu strategis; transisi energi hijau, ekonomi digital, ketahanan pangan, dan stabilitas Laut Cina Selatan. Selain itu, Indonesia bisa menjadi pemimpin moral ASEAN untuk memperkuat soft diplomasi melalui kebudayaan, keanekaragaman, keberagaman, dan nilai strategis kawasan.

Jalan Ke Depan

Pertanyaan tentang, lalu apa yang bisa dilakukan Asia Tenggara untuk mencapai inti kekuatan global? Dalam buku ini, Gita Wirjawan menjawabnya dengan beberapa rekomendasi penting. Langkah awal yang sangat krusial, yakni bagaimanapun menghargai sejarah kawasan dengan kisah luar biasa tentang kolonialisme dan perdamaian sangat penting. Kawasan ini relatif lebih kuat menciptakan stabilitas di tengah keberagaman selama ribuan tahun dibanding negara-negara lain di dunia. Saatnya pemimpin ASEAN menyadari peluang unik yang mereka miliki lalu memusatkan perhatian pada bidang-bidang prioritas utama. Kedua, pemerintah harus menunjukkan pergeseran kepemimpinan strategis ke arah meritokratis, tidak lagi patronase. Dan memperagakan praktik kepemimpinan yang transparan dan akuntabel guna mengatasi hambatan-hambatan spesifik yang menghalangi kemajuan Asia Tenggara.

Ketiga, negara-negara di Asia Tenggara perlu proaktif berinvestasi besar-besaran di bidang pendidikan, kecerdasan buatan, dan ekonomi berkelanjutan. Sebab, pendidikan memainkan peran penting membentuk relevansi individu maupun negara. Investasi dan fokus pembangunan di bidang STEM dengan sendirinya akan melahirkan kompetensi berharga yang dibutuhkan Asia Tenggara untuk memperkuat posisinya terutama di bidang inovasi, teknologi, dan ekonomi. Terakhir, penguatan multipolaritas. Asia Tenggara harus bisa beradaptasi dengan tatanan multipolar dengan langkah terukur dan tetap menjaga keseimbangan strategis. Mengadopsi strategi ini berarti menguatkan peran dari berbagai arah. Para pemimpin Asia Tenggara harus melihat strategi ini sebagai cara memperluas ruang gerak untuk tetap terhubung dengan berbagai blok ekonomi dan aliansi geopolitik yang ada. Itu.

Muhammad Suryadi R lahir di Barru 08 Juli 1993. Pendidikan S1-nya ditempuh di STAI DDI Mangkoso Program Studi Pendidikan Agama Islam dan selesai tahun 2016. Sejak tahun 2022, ia melanjutkan pendidikan Magisternya pada Program Pascasarjana (PPs) IAIN Parepare Prodi Pendidikan Agama Islam lalu menyelesaikannya pada tahun 2026. Sejak menjadi mahasiswa sampai sekarang, ia aktif di PMII-Ansor-NU dan bergelut dalam dunia intelektualisme, literasi dan pembasisan-pemberdayaan. Belakangan sedang merintis dan mengembangkan komunitas filsafat yang didirikannya sejak September tahun 2023 yang kemudian ia namai Lingkar Studi Aktivis FIlsafat (LSAF) Annahdliyyah. Di samping itu, Muhammad Suryadi R aktif di bidang literasi bersama Perpustakaan Komunitas Iqra (Takanitra) dan dipercayakan mengemban jabatan Sekertaris dan peneliti aktif di Parametric Development Center.